KB TK Surya Melati

Dekati Anak dengan Cara yang Tepat

Para ayah dan bunda sempatkan waktumu, menjadi pendamping kehidupan, dan membimbing mereka mengenali tuhannya, mengenali kehidupan dunia ini. Memang tidak mudah dan terus belajar bagaimana memahami mereka yaitu anak-anak kita. Mencontoh suri tauladan utama yaitu rasulullah SAW. Bagaimana rasulullah dengan anak- anak, bagaimana cara beliau mengajari mereka, begitu banyak hal bisa kita pelajari sebagai orang tua.

Sebagaimana Rasulullah yang senantiasa senang bermain-main (menghibur) dengan anak-anak dan kadang-kadang beliau memangku mereka, ini merupakan salah satu upaya untuk bisa mendidik dan dekat dengan mereka. Beliau menyuruh Abdullah, Ubaidillah, dan lain-lain dari putra-putra pamannya Al-Abbas r.a. untuk berbaris lalu berkata, “ Siapa yang terlebih dahulu sampai kepadaku akan aku beri sesuatu (hadiah).”merekapun berlomba-lomba menuju beliau, kemudian duduk di pangkuannya lalu Rasulullah menciumi merekadan memeluknya.

Berikut Cara Mendidik Anak dengan Cara yang Tepat :

1. Menunjukkan kasih sayang yang tulus

Selain dituntut untuk bersikap lembut kepada anak, orang tua juga selayaknya memberikan kasih sayang yang tulus dan utuh kepada anak. Salah satu contohnya adalah dengan mengatakan kepada anak bahwa kita sangat menyayanginya, “ nak…bunda sayang sekali kepadamu…,  Pelukan atau ciuman juga bisa menjadi penyemangat tersendiri bagi jiwa sang anak yang bisa kita  lakukan.

2. Memberi rasa nyaman

Tumbuhkanlah rasa nyaman ketika anak sedang bersama dengan kita. Sesekali ajaklah untuk berdiskusi kecil di sela-sela kebersamaan agar anak merasa nyaman, sebaiknya tidak menjadi yang merasa paling tahu segalanya sehingga membuat kita sebagai orangtua terkesan mendominasi pembicaraan. Jadikan ia seperti seorang teman yang juga perlu untuk kita dengarkan dengan baik dan penuh rasa simpati.

3. Menjadi pendengar yang baik

Mungkin anak kita pernah merasakan di olok-olok oleh teman sebayanya. Sebagai orang tua yang baik, mencoba melakukan pendekatan agar si anak mau bercerita. Di saat seperti itulah kita dituntut untuk bisa menjadi pendengar yang baik dan mampu mendengarkan semua keluh kesah si kecil. Ini merupakan kunci sukses dalam membangun rasa percaya diri anak. Memberikan dukungan yang baik/positif dan bekalilah ia dengan skill untuk menghindari olokan temannya serta kemampuan untuk bisa bersosialisasi dengan baik disaat ia menghadapi permasalahan. Sebagai contoh kita dapat mengajarkan anak untuk menghindari sebuah ejekan dari temannya. Misalnya jika ada temannya yang mengatakan “ Kamu nakal “, lantas jawaban yang tepat adalah, “ Aku lho…baik…”Anak yang terbiasa mengolok-olok pasti akan merasa bosan dengan jawaban yang demikian karena ejekannya tidak ditanggapi dengan serius serta tidak mendapatkanfeedback sesuai dengan yang ia inginkan, misalnya dengan menangis, mengadu atau marah.

4. Membangun kreatifitas dengan bermain bersama

Mengajarkan anak tidak harus selalu membuat “aturan baru” yang tidak menyenangkan baginya, akan tetapi bisa juga dengan cara bermain bersama. Memberikan kesempatan kepada anak untuk menuangkan idenya saat bermain bersama, menari, menyanyi serta kegiatan yang membuat mereka senang dan lebih dekat dengan kita.

5. Menjadi panutan dan idola bagi anak sendiri

Sebagian besar setiap anak memiliki idola “superhero” di dunia imajinasinya. Namun demikian di dunia yang sesungguhnya, ia juga pasti ingin memilikinya. Kita sebagai orang tua sebisa mungkin mencoba untuk menjadi apa yang diinginkan sang anak dan selalu bisa diandalkan. Salah satunya adalah dengan melakukan apa pun yang menurut kita terbaik untuk bisa diberikan kepada anak. Dalam hal ini bisa juga kita kenalkan sosok rasulullah yang menjadi idola karena akhlaqnya yang mulia. Melalui cerita tentang rasulullah ini diharapkan anak anak akan muncul cinta dan rasa idola serta ingin meniru prilakunya diantaranya; rasulullah sebagai sosok yang sabar, jujur, amanah dan cerdas.

6. Mengajari tanggung jawab

Mengajarkan dan mengingatkan anak untuk selalu memiliki rasa tanggung jawab terhadap dirinya. Misalnya jika telah tiba waktunya untuk sekolah, ia harus berangkat, apa yang musti dilakukan dan di siapkan. Jika ia bertanya mengapa harus demikian. Berikanlah alasan yang bisa dipahami oleh anak.

7. Menumbuhkan sikap menghormati

Menumbuhkan dan mengajarkan anak untuk selalu menghormati siapa pun orangnya, baik orang yang lebih tua maupun teman sebayanya. Hal ini penting untuk ditumbuhkan semenjak usia dini sebab di kemudian hari saat ia telah dewasa ia dapat berlaku hormat kepada semua orang, menghargai orang lain, ini bisa kita latihkan sejak dini.

8. Mengajarkan meminta maaf dan memaafkan

Meminta maaf atas sebuah kesalahan merupakan tindakan yang mulia dan kesatria. mengajarkan anak untuk mau meminta maaf dari sebuah kesalahan yang mungkin ia lakukan terhadap teman sebayanya merupakan upaya dalam menyadarkan anak bahwa perbuatan yang dilakukannya adalah tindakan yang kurang terpuji. Begitu juga sebaliknya memaafkan saat teman melakukan kesalahan merupakan tindakan yang baik dan terpuji sehingga teman yang melakukan kesalahan mengerti apa yang sebaiknya dilakukan saat melakukan kesalahan.

9. Menghindari kebohongan

Seorang anak yang sering dibohongi saat masih kecil akan menjadi terbiasa dengan kebohongan yang ditanamkan oleh orang tuanya. Saat nanti ia dewasa, ia tentu akan menganggap berbohong adalah hal yang wajar dilakukan karena semua orang termasuk orang tuanya juga melakukannya.

10. Bersikap lembut terhadap anak

Sebagai orangtua bersikap lembut merupakan hal yang mutlak harus dilakukan. Sebab dengan bertutur kata yang lembut, seorang anak akan mendengarkan perkataan orangtuanya. Begitu juga saat memanggil dengan panggilan yang baik, misalnya “ anak bunda yang shalih…kemarilah…”, membuat anak menjadi bangga terhadap dirinya. Serta dengan panggilan yang baik juga merupakan bagian doa dan harapan orang tuanya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *